Connect with us

YOGYAKARTA

Ekspor Produk UMKM Jadi Target Kerjasama DIY Dan BNI

Published

on

YOGYAKARTA – Pemda DIY dan Bank Negara Indonesia (BNI) berkomitmen bersama untuk menjadikan produk-produk UMKM DIY naik kelas. Produk-produk UMKM ini akan dipandu hingga bisa menembus pasar luar negeri melalui ekspor.

Kepala Kanwil BNI Regional DIY-Jateng, Beby Lolita Indriani mengatakan hal demikian usai menemui Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Rabu (11/05) di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Beby yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Kanwil BNI Regional ini saat ini ditunjuk menjadi Kepala Kanwil BNI Regional DIY-Jateng, menggantikan Mochammad Hisyam.

Beby menjelaskan, DIY memiliki banyak pelaku UMKM dengan produk yang unik dan memiliki nilai jual yang bagus di pasar luar negeri. Namun memang, para pelaku UMKM ini memiliki keterbatasan untuk bisa memasarkan produknya karena keterbatasan pengetahuan dan kesempatan. Untuk itu pihaknya bersama dengan Pemda DIY akan membuka peluang itu untuk membuat UMKM naik kelas.

“Kita akan membuat semacam proses pembelajaran dan alhamdulillah disambut baik oleh Ngarsa Dalem, dan beliau meminta kita untuk disegerakan melaksanakan program ini,” kata Beby.

Fasilitas pelatihan ini tidak hanya berlaku untuk UMKM yang telah tergabung dalam paguyuban tertentu, namun bisa diikuti siapa saja asalkan sudah lolos kurasi. Nantinya, BNI direkomendasikan untuk bekerjasama dengan Dinas UMKM, Kamar Dagang Industri dan HIPMI untuk menyeleksi produk UMKM yang akan dibimbing. Tidak ada ketentuan khusus yang ditetapkan BNI, namun syarat mutlaknya adalah produk tersebut harus lolos pada penilaian Dinas UMKM, Kamar Dagang Industri dan HIPMI DIY.

“Jadi tadi arahan beliau (Ngarsa Dalem) kan memang kita harus bekerja sama dengan Dinas Koperasi lalu kemudian dengan KADIN dan dengan HIPMI. Dari situ ada proses penyaringan atau proses kurasi. Jadi nanti masing-masing akan mengajukan siapa saja yang boleh, jadi tidak harus masuk dalam paguyuban apa atau belum, asal sudah mengantongi referensi oleh instansi dan organisasi tersebut. Kami kan juga perlu kerjasama dengan dinas-dinas tertentu untuk memudahkan,” urai  Beby.

Target Beby bersama BNI untuk merealisasikan program tersebut adalah berkisar pada bulan Juni tahun ini. Beby akan berupaya untuk secepatnya mencapai MoU dengan Pemda DIY sesuai dengan arahan Sri Sultan. Dirinya mengejar bulan Juni, karena proses pelatihan hingga produk lolos ekspor membutuhkan waktu sedikitnya 8 bulan. Oleh karena itu, semakin cepat program dimulai, maka semakin cepat pula para pelaku UMKM bisa mengekspor produknya.

Tidak hanya bantuan pembiayaan yang diberikan oleh BNI, namun juga bagaimana menyiapkan produk menjadi siap saing. Nantinya, hal-hal teknis pun akan benar-benar diperhatikan, seperti misalnya packaging, konten-konten produknya, selera pasar, dan sebagainya. Ada 7 cabang BNI di luar negeri yang akan menampung hasil produk UMKM yang lolos kurasi. Di antaranya adalah Singapura, Hongkong, Seoul, Tokyo, New York, London dan Osaka.

Terkait dengan kans UMKM DIY untuk bersaing, Beby mengaku cukup optimis mengingat perekonomian DIY lebih banyak ditopang oleh industri kreatif. Meskipun sebelumnya tidak tinggal di DIY dan mengamati secara langsung UMKM DIY, namun Beby merupakan pengunjung tetap DIY. Dirinya mengaku terpesona dengan produk-produk UMKM DIY yang memang sangta unik dan kreatif.

“Saya adalah pengunjung tetap DIY, jadi walaupun saya berada di kota lain tapi DIY ini adalah kota yang dirindukan. Produk-produk kulinernya, oleh-olehnya, souvenir, tekstilya juga luar biasa. Jadi saya yakin kalau kita bantu kemas dengan baik, menarik, pasti bisa tembus ke pasar internasional.” (jogjaprov.go.id)

Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Copyright © 2022 Jogjaterkini.com