Connect with us

YOGYAKARTA

Budaya ‘Ngaruhke Lan Ngarahke’ Perlu Dihidupkan Kembali

Published

on

Budaya ‘Ngaruhke Lan Ngarahke’ Perlu Dihidupkan Kembali

Yogyakarta – Pilihan salah anak pada budaya merusak diri sendiri dengan mengkonsumsi alkohol, narkoba atau pornografi bisa jadi merupakan manifestasi dari peniruan atas gaya hidup keluarga yang materialistis, hedonis, dan konsumtif. Oleh karena itu, budaya ‘Ngaruhke lan Ngarahke’ (menyapa dan mengarahkan) sebaiknya dihidupkan kembali dalam setiap keluarga agar semakin berdaya tahan karena ada kehangatan, perhatian, dan kasih sayang yang mengeratkan hubungan satu sama lain di dalamnya.

Demikian diutarakan Wakil Ketua I Tim Penggerak PKK DIY GKBRAy A. Paku Alam saat membacakan sambutan Ketua Tim Penggerak PKK DIY, GKR Hemas pada pembukaan kegiatan Intervensi Ketahanan Keluarga Anti Narkoba di Lingkungan Stakeholder di DIY pada Selasa (05/07) pagi. Kegiatan tersebut digelar di Swiss-Belboutique Yogyakarta yang terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 69, Yogyakarta.

“Kita semua prihatin dengan maraknya penyalahgunaan narkoba, yang kini bahkan sudah menyasar pada kalangan anak-anak dan remaja. Melibatkan PKK untuk memberdayakan setiap keluarga, agar sejak dini menyadari bahaya penyalahgunaan narkoba dan selanjutnya secara aktif turut mencegahnya, adalah ide yang cemerlang dan strategi yang sangat tepat,” tutur Gusti Putri.

Gusti Putri menyampaikan keluarga adalah pusat utama dan pertama dalam pembangunan peradaban bangsa. Di dalam keluargalah, aklak dan moralitas diperkenalkan untuk pertama kalinya pada anak-anak, sebagai dasar untuk menumbuhkan kehidupan yang aman, tertib, dan sejahtera. Nilai-nilai moralitas itu selanjutnya akan membentuk karakter anak yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.

Diterangkan Gusti Putri, tradisi luhur budaya Jawa mengajarkan untuk ‘ngaruhke lan ngarahke’ yang artinya menyapa dan mengarahkan. Berdasarkan dua kata sederhana tersebut terkandung muatan pesan yang mendalam, yakni membangun komunikasi yang baik dan bersama menuju tujuan yang lebih mulia.

Melalui aktivitas ‘ngaruhke’ atau menyapa, tidak dimaksud sekadar bertegur sapa secara formal dan permukaan saja. Namun, sampai pada pemahaman yang mendalam mengenai situasi pikir dan rasa setiap pribadi yang disapa, yang mana ada kedalaman, ada empati, dan sekaligus kesediaan berbela rasa.

“Dengan ‘ngaruhke’, saya ingin mengajak kita semua untuk memperbaiki kualitas komunikasi antar anggota keluarga. Saling menyediakan telinga untuk mendengarkan dengan tulus dan tidak buru-buru menilai, dan menghakimi. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan instan ini, didengarkan adalah  hadiah terindah yang didamba setiap orang,” jelas Gusti Putri.

Sementara melalui aktivitas ‘ngarahke’ atau mengarahkan, tidak dimaksud sekadar memberitahu belaka, namun, sampai pada menemani perjalanan pencarian. Ada kesedian memberi contoh, menuntun selama proses, dan menegakkan semangat manakala pribadi yang diarahkan mengalami kesulitan.

“Ajakan saya yang ke dua adalah ‘ngarahke’ atau mengarahkan. Hal ini bukanlah pertama-tama dilakukan dengan membanjiri anak-anak melalui beragam petuah dan nasihat, melainkan dengan menjadikan diri kita contoh yang hidup (role model) bagi anak-anak dan setiap anggota keluarga. Hendaklah diingat bahwa nilai-nilai itu tidak pertama-tama ditangkap melalui kata-kata, tetapi dalam rupa contoh perilaku hidup yang mengesima dan membuat anak-anak ingin menirunya. Jatuh cinta pada kebaikan yang kita tauladankan.” ucap Gusti Putri.

Melalui ‘ngaruhke lan ngarahke’ ini, kedekatan pribadi dan kehangatan hubungan diciptakan. Dengan kehangatan penerimaan itulah, setiap anak tidak lagi memiliki alasan untuk lari dan mencari di tempat lain yang pada akhirnya hanya bermuara pada kesesatan pilihan.

“’Ngaruhke lan ngarahke’ semestinya juga kita lakukan pada anak-anak dari luar daerah, yang dipercayakan oleh orang tuanya untuk menimba ilmu di Yogyakarta dan dengan demikian menjadi anak asuh dan tanggung jawab kita juga. Kita tidak hanya wajib, tetapi juga berhak untuk membuat mereka ‘tepung, dunung, lan srawung’ yang mana mengenal lingkungan budaya setempat, bisa menempatkan dan membawa diri di lingkungan hidupnya yang baru, serta membangun pergaulan yang positif,” terang Gusti Putri.

Gusti Putri juga berpesan, agar pada tataran masyarakat harus dipikirkan dan diupayakan kegiatan-kegiatan yang menjadikan anak-anak dari luar daerah tersapa dan terarahkan. Dikatakan Gusti Putri bahwa manakala anak-anak tersebut merasakan kehangatan penerimaan dan perhatian dari masyarakat sekitarnya, mereka tidak akan menjadi terasing, kesepian, dan mudah tergoda oleh tawaran pergaulan yang mendatangkan bahaya.

Pada kesempatan yang sama, Perwakilan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) Indonesia Programme Coordinator DDR & HIV, Ade Aulia menyampaikan bahwa UNODC menyambut baik dan merasa senang atas terjalinnya kerja sama antar BNN RI dengan PKK dalam program intervensi ketahanan keluarga. Adanya kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat dan memperluas cakupan program ketahanan keluarga anti narkoba.

Ade Aulia mengatakan, Pemerintah Indonesia melihat intervensi penguatan ketahanan keluarga sebagai salah satu langkah strategis, penting, dan mendesak dalam membangun dan menyejahterakan keluarga khususnya untuk melindungi anak-anak dari bahaya narkoba. Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah indonesia pada tahun 2018 melalui Kementerian PPN/Bappenas memutuskan bahwa pengembangan model intervensi ketahanan keluarga anti penyalahgunaan narkoba sebagai garda terdepan dalam penanggulangan masalah narkoba dan menjadi salah satu program prioritas nasional yang selanjutnya menetapkan BNN RI sebagai lembaga pemerintah yang memimpin serta mengkoordinir respon dan pelaksanaannya.

“Sebagai bentuk dukungan kami pada Pemerintah Indonesia, pada tahun 2019 bersama dengan BNN RI, UNODC memperkenalkan program ‘Family United Program’. Program ini mencakup peningkatan keterampilan keluarga untuk pencegahan dampak sosial negatif bagi keluarga,” jelas Ade Aulia.

Program Family United sendiri mendukung pengasuh untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Program ini mempromosikan gaya pengasuhan anak yang hangat dimana orang tua menetapkan aturan untuk perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima, memantau dengan cermat waktu luang dan pola persahabatan, dan menjadi panutan yang baik sambil membantu anak-anak mereka memeroleh keterampilan untuk membuat keputusan yang tepat. Disebutkan Ade Aulia, faktor-faktor tersebut penting untuk mencegah penggunaan narkoba, penyalahgunaan zat, dan perilaku risiko lainnya, termasuk kejahatan dan kekerasan.

“Selama tiga hari ke depan, kita akan meluangkan waktu untuk berbagi dan mendiskusikan tentang program ini secara mendetail, khususnya tentang bagaimana membangun pola komunikasi yang produktif antara orang tua dan anak. Untuk itu saya mengundang bapak ibu untuk hadir dalam kegiatan ini tidak hanya sebagai peserta tetapi juga sebagai seorang anak, seorang kakak, ayah, adik dan ibu. Dengan demikian sekembalinya kita ke rumah masing-masing kita dapat merefleksikan sekaligus menerapkan ilmu yang kita dapat dari pelatihan ini dalam urusan keseharian kita sebagai orang tua,” kata Ade Aulia.

Lebih lanjut, Ade Aulia menambahkan bahwa pelatihan tersebut merupakan gelombang pertama dari rangkaian pelatihan yang akan diselenggarakan bersama dengan BNN RI. Diharapkan melalui pelatihan tersebut, akan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan fasilitator-fasilitator program ketahanan keluarga anti narkoba dalam rangka membantu upaya pemerintah menciptakan Indonesia yang bersih dari narkoba.

Adapun kegiatan Intervensi Ketahanan Keluarga Anti Narkoba di Lingkungan Stakeholder ini terselenggara atas kerja sama UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) perwakilan Indonesia dan Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia dalam rangka pembentukan fasilitator intervensi ketahanan keluarga anti narkoba. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Widyaiswara Ahli Utama PPSDM BNN RI, Diah Setia Utami; Deputi Rehabilitasi BNN RI, Riza Sarasvita; Tim Deputi Pencegahan BNN RI; Kepala BNN kabupaten/kota se-DIY; para narasumber program intervensi ketahanan keluarga anti narkoba dari BNNP DIY dan BNN kabupaten/kota se-DIY, serta hadirin tamu undangan lainnya. (jogjaprov.go.id)

Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 Jogjaterkini.com